[Book Review] Teruslah Bodoh Jangan Pintar by Tere Liye

Teruslah Bodoh Jangan Pintar
karya Tere Liye
978-623-88822-0-5
371 halaman
Cetakan ke-3, Februari 2024
Diterbitkan oleh Sabak Grip Nusantara
4/5🌟

Blurb

Saat hukum dan kekuasaan dipegang oleh serigala-serigala buas berbulu domba. Saat seluruh negeri dikangkangi orang-orang jualan sok sederhana tapi sejatinya serakah. Apakah kalian akan tutup mata, tutup mulut, tidak peduli apa yang terjadi? Atau kalian akan mengepalkan tangan ke udara, LAWAN!

Review

Selamat Hari Raya Idulfitri bagi yang merayakan ^^ Hari ini aku datang membawa review buku terbarunya Tere Liye nih. Pertama kali terbit sebelum pemilu pada 14 Februari 2024 lalu. Jadi, tema ceritanya tidak lain dan tidak bukan membahas tentang politik.

Dari judulnya saja sih sudah eye catching ya. Bikin aku penasaran cerita politik macam apa yang akan disuguhkan Tere Liye dalam buku ini.

Teruslah Bodoh Jangan Pintar berkisah tentang perjuangan dua kubu antara Aktivis Lingkungan dengan PT Semesta Minerals & Mining. Perwakilan rakyat melawan penguasa. Dalam rencana konsesi proyek raksasa.

Proyek itu menghadirkan pro dan kontra.

Aktivis Lingkungan menentang hal tersebut karena dianggap merugikan masyarakat dan lingkungan.

PT Semesta Minerals & Mining, pemerintah, dan kubu-kubunya mendukung dengan memberikan edukasi kepada masyarakat serta iming-iming karena proyek konsesi akan menguntungkan semua pihak.

Namun negara demokrasi tidak bisa mengabaikan suara masyarakat. Agar proyek dinilai adil, maka presiden yang baru terpilih melaksanakan janjinya saat kampanye, yaitu melakukan pembentukan komite independen untuk diadakan sidang dengar pendapat yang bersifat tertutup yang hasilnya akan menentukan apakah konsesi akan disetujui atau dibatalkan.

Komite tersebut terdiri dari 7 orang yang dinilai independen oleh masyarakat langsung. Namun, apakah para komite itu tetap bisa mempertahankan keindependenan mereka dalam menentukan mana yang baik dan buruk setelah sidang?

Pihak penggugat adalah Aktivis Lingkungan.

Pihak tergugat adalah PT Semesta Minerals & Mining.

Aku berhasil menghabiskan buku ini dalam 3 hari. Termasuk cepat. Siapa sangka membaca proses sidang bisa seseru itu? Apalagi pembaca harus menghadapi penguasa bergelimang harta yang bisa melakukan apapun. Suara bisa dibeli. Kesaksian bisa dibungkam. Kurang lebih seperti, "Lo punya uang, lo punya kuasa."

Di sini aktivis lingkungan berusaha keras untuk menentang konsesi itu dengan cara membuka 'aib' atau catatan 'gelap' PT Semesta Minerals Mining selama puluhan tahun ke belakang. Para korban dipanggil untuk dijadikan saksi

Jujur aja, membaca kisah para korban membuat sedih dan miris karena terlalu relate dengan di lapangan. Penambangan liar tidak bertanggung jawab, warga pribumi yang terusir dari kampung halaman mereka, hak-hak mereka direbut paksa, seolah-olah semua bisa diselesaikan dengan uang. Belum lagi eksploitasi SDA habis-habisan yang merusak lingkungan demi keuntungan pihak penguasa. Bahkan sesuatu seperti The Power of Orang Dalam juga ada di buku ini.

Dimana keadilan? :')

Tidak cukup bikin sedih dan miris, buku ini juga bikin naik darah gara-gara Hotma Cornellius! Seorang pengacara ulung yang diharapkan bisa membela kebenaran demi keadilan, malah membela kejahatan dengan memutarbalikan fakta. Cukup beri dia bayaran fantastis, pelaku kejahatan kelas kakap pun dia bela sampai mampus.

Ya, pengacara dari pihak tergugat adalah pengacara spesialis orang jahat.

Pengen banget sumpal mulutnya Hotma Cornellius pakai cabai tiap dia buka mulut. Apalagi kalau dia mulai, "Keberatan, Yang Mulia!" Duh, aku baca buku ini tiap habis buka puasa. Soalnya harus ekstra sabar.

Nah, meskipun isi buku ini fokus dengan jalannya persidangan dari awal sampai akhir, tapi alurnya maju-mundur antara masa lalu dengan masa kini, jadi pembaca juga tidak akan merasa monoton. Bahkan masa lalu para aktivis lingkungan pun juga dibahas. Didukung dengan gaya menulis Tere Liye yang mengalir membuat tidak bisa berhenti membalik halaman.

Kuacungi jempol sih Tere Liye berhasil menulis isi buku ini. Karena isi di dalamnya benar-benar terasa sampai ke realita yang terjadi pada negeri ini.

Sidang dengar tertutup itu berlangsung selama 16 hari. Karena ini bukan buku fantasi dimana hal-hal tidak mungkin menjadi mungkin, tentu endingnya sudah bisa ditebak bagaimana hasil sidangnya.

Lagi-lagi apa?

Ya, lo punya uang, lo punya kuasa.

"Dia hanyalah politisi. Berlagak paling patriot, seolah tidak membutuhkan jabatan apapun, si paling hendak mengabdi pada nusa dan bangsa, tapi sesungguhnya ambisius dan serakah."

Namun meski endingnya sudah tertebak, penulis tetap kasih kejutan di akhir yang tidak disangka-sangka. Novel ini ditutup dengan epilog tidak sampai 2 lembar, tapi mampu membuat bengong sesaat. Baca ulang halaman terakhir lalu... "Uwogh! Gilaa sihh..." mirip-mirip drakor ala korea gitu.

Ernest Prakasa, salah seorang produser film juga membaca novel ini. Lewat unggahan di akun instagramnya, dia menuliskan agar tidak disuruh mengangkat Teruslah Bodoh Jangan Pintar ke layar lebar. Sekalipun ada yang bikin filmnya, aku rasa bakal tidak dapat izin tayang.

Novel ini recommended untuk dibaca! Dengan harapan pembaca bisa mengambil hikmah dan pembelajaran dari buku ini. Khususnya anak-anak muda generasi penerus bangsa diharapkan untuk benar-benar memiliki nurani dan jiwa membangun negeri demi kepentingan bersama, bukan kepentingan sendiri.

Buat kamu yang juga sudah baca bukunya sampai tamat, gimana reaksi kamu sama endingnya? Boleh banget cerita di kolom komentar πŸ‘€

Terima kasih sudah membaca ^^

Post a Comment

0 Comments