Namanya Juga Manusia

fstoppers.com
Alasan menulis postingan ini disebabkan oleh salah satu dosen yang membuat mentalku anjlok mendadak senin lalu.

Semester lima dan menghadapi dosen begini. Bentuk cobaan apa lagi ini?

Setiap manusia pernah melakukan kesalahan.

Coba deh, apakah kamu pernah bertemu dengan seseorang yang tidak pernah salah dalam hidupnya? Kalau ada, kasih tau aku. Kayaknya dia bukan manusia kalau tidak pernah salah walaupun satu kali dalam kehidupannya.

Atau gini deh, pernah nggak sih nemu mahasiswa yang nggak pernah salah selama berkuliah?

Salah itu termasuk proses belajar. Kalau nggak pernah salah, gimana mau belajar? Kalau nggak pernah salah, ngapain kuliah? Toh sudah pintar, kan?

Termasuk salah dalam mengerjakan tugas. 

Menurutku ya, sesalah-salahnya mahasiswa membuat tugas, seharusnya dosen berusaha menghargainya karena sudah mau mengerjakan. 

Siapa sih yang nggak suka dihargai? Tiap individu pasti berharap apapun yang mereka usahakan membuahkah hasil yang baik dan dihargai orang lain. Setidaknya, dihargai oleh orang lain dapat membuat kita lebih bersemangat dalam mengerjakan sesuatu dan membuat kita menjadi lebih termotivasi.

Baiklah, mari masuk ke sesi curcolanku.

Dua minggu yang lalu di mata kuliah auditing, dosen memberikan tugas sebelum UTS. Beliau meminta kita untuk menganalisis laporan audit perusahaan dengan SA 700, lalu di pertemuan terakhir sebelum UTS, beliau juga meminta kita untuk mempresentasikan hasil tugas yang dikerjakan.

Bagaimana hasilnya?

Mayoritas kita salah mengerjakan tugasnya dong 😭

Ternyata maksud dari tugas analisis itu adalah membandingkan laporan audit dengan SA 700, Gaes! Apakah laporan audit itu sudah sesuai standar? Ya, itu aja. Sedangkan aku dan teman-teman kebanyakan menganalisis laporan auditnya langsung dengan referensi blog-blog lain.

Iya, iya ini salah banget.

Tapi please banget... dosen harusnya tuh kalau mau negur kesalahan, bahasanya difilter dulu gitu. Tugas yang kita kerjakan dianggap asal-asalan, ngawur, sok tahu itu juga hasil mikir. Sengasal-ngasalnya mahasiswa nugas, mereka juga mikir.

Dosenku tetap menerima tugasnya sih, tapi tetap aja beliau tidak seharusnya mengeluarkan kata-kata seperti itu.

Aku pribadi merasa nggak dihargai. Atau mungkin aku saja yang terlalu lebay? Ah, sifat manusia itu beragam guys. Kalau sama semua kamu pasti bosan.

Coba aku kasih contoh ilustrasi nih.

Misalnya, kamu seorang koki yang lagi magang di restoran. Ceritanya kamu baru diputusin pacar, jadi masaknya nggak konsen gitu. Mau masukin garam, malah kebanyakan micin. Mau kasih kecap manis, malah ketukar kecap asin. Terus niatnya mau pakai jahe, malah masukin lengkuas. Lalu ada dua pelanggan dengan sifat berbeda. Dan ini reaksi mereka waktu makan masakan kamu.

Pelanggan A: "Puih! Apaan nih?! Kok masakannya nggak enak gini?! Kamu masaknya ngawur, ya? Asal-asalan. Jangan-jangan kamu koki gadungan. Nih, tetap saya bayar. Tapi masakan kamu rasanya kayak sampah."

Pelanggan B: "Waduh, kok rasa masakannya nano-nano gini ya? Mas/Mbak cobain juga deh makanan saya. Kira-kira apa nih yang perlu diperbaiki? Padahal keliatannya enak, coba resepnya direvisi dulu, Mas/Mbak."

Oke, contoh yang buruk. Tapi intinya, walaupun si koki salah, teguran Pelanggan B lebih berkelas dari si Pelanggan A.

Dari kejadian ini, setidaknya aku belajar: bahwa manusia itu bisa salah. Termasuk mahasiswa. Mereka bisa salah dalam mengerjakan tugasnya, bahkan salah dalam menjawab pertanyaan. Namun usaha serta hasil yang mereka upayakan tetap patut dihargai. Salah juga proses belajar. Jangan menghujat, jangan merendahkan, dan selalu berpikir sebelum berkata. Manusia punya perasaan. Mereka ingin dihargai.

Sekian curcolan kali ini.

Tetap semangat kuliah onlinenya ya!

Semoga pandemi ini segera berlalu sehingga kita bisa kembali melakukan rutinitas perkuliahan seperti biasa.

Post a Comment

0 Comments