[Book Review] Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold by Toshikazu Kawaguchi

Book Review Funiculi Funicula by Toshikazu Kawaguchi
Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold
karya Toshikazu Kawaguchi
978-602-06-5192-7
224 hlm.
Diterbitkan oleh GPU
Cetakan ke-31, Januari 2026
4,5/5🌟

Blurb

Di sebuah gang kecil di Tokyo, ada kafe tua yang bisa membawa pengunjungnya menjelajahi waktu. Namun ada banyak peraturan yang harus diingat.

Rentetan peraturan lainnya bahkan tak menghentikan orang-orang itu untuk menjelajahi waktu. Akan tetapi, jika kepergian mereka tak mengubah satu hal pun di masa kini, layakkah semua itu dijalani? 

(Blurb tidak ditulis lengkap karena menurutku baiknya langsung baca aja untuk mendapatkan pengalaman membaca yang lebih baik)

Review

Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold—kafe, kopi, dan perjalanan melintasi waktu yang heart-warming.

Hai, hai! Kali ini aku kembali membawa review buku yang ringan lagi nih. Masih dalam rangka mengistirahatkan diri dari kebanyakan baca novel CTM 😆.

Funiculi Funicula ini buku yang cukup ramai dibaca teman-teman bookstagram. Apalagi setelah teman dekat berhasil menyelesaikan buku ini, dia langsung cepat merekomendasikan buku ini untuk aku baca. Alhasil, buku karya Toshikazu Kawaguchi langsung masuk ke top wishlist yang ingin kubeli.

Di Indonesia, GPU telah menerbitkan tiga karya Toshikazu Kawaguchi dan respon pembacanya cukup bagus. Tiga judul tersebut adalah:

  • Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold
  • Funiculi Funicula: Kisah-kisah yang Baru Terungkap
  • Dona Dona

Nah, di postingan kali ini aku akan mereview buku yang pertama ya! ^^ 

Kafe dan Urban Legend-nya

Aku suka dengan konsep latar kafe yang dipakai dalam cerita ini karena aku sendiri suka dengan suasana kafe yang cozy dan suka minum kopi juga. Jadi, ada rasa nyaman saat ceritanya dibuka dengan pengenalan kafenya dan udah to the point ke konflik di cerita pertama. Alias tidak bertele-tele.

Urban legend kafe juga bikin buku ini semakin menarik diikuti. Yaitu, pengunjung bisa melakukan perjalanan waktu. Meskipun ada banyak peraturan ketat yang harus diikuti—yang sangking ketatnya sehingga hanya sedikit yang mau melakukan perjalanan waktu ini, tetap saja ada konsekuensi yang harus mereka terima.

Apapun yang mereka lakukan saat Time Travel, kenyataan tidak akan bisa diubah.

Nah, kalau tak bisa mengubah apapun, apakah worth it melakukan perjalanan waktu itu?  

Perjalanan waktu, penyesalan, dan harapan

Kalau ngomongin waktu, terutama masa lalu, tentu tidak luput dari sesuatu yang bernama penyesalan.

Dalam realita kehidupan sehari-hari, sudah berapa banyak penyesalan yang kita alami di masa lalu? 🥲 tapi kenyataannya, kita tidak bisa mengubah masa lalu. Sama seperti salah satu peraturan di kafe ini kalau mau melakukan perjalanan waktu, mereka tidak bisa mengubah takdir.

Benar-benar ngasih pelajaran kehidupan bahwa apapun yang terjadi, meskipun hal-hal masa lalu tidak bisa diubah, setidaknya kita harus hidup sebaik mungkin, tetap menjalani hidup, karena tidak ada yang tahu tentang masa depan, pun di masa yang tidak ketahui, tetap masih ada harapan

Empat Bab dengan Empat Kisah

Buku ini hanya menyajikan empat bab dengan empat cerita di dalamnya. Meski begitu, timeline-nya sendiri masih nyambung kok. Bahkan antar-tokohnya juga saling mengenal satu sama lain. Dan empat bab tersebut menyajikan empat relationship.

  • Hubungan kekasih
  • Hubungan suami-istri
  • Hubungan adik-kakak
  • Hubungan Ibu-anak

Empat kisah di atas sangat relate sekali ya dengan kehidupan nyata 🥲 aku merasa biasa aja sama yang nomor 1, tapi kisah nomor 2-4 tuh cukup menguras emosi. Karena ketiga relasi itu tuh relasi yang kuat banget!

Nomor 2 dan 4 berhasil bikin aku menitikkan air mata 🥲 

Masih ada misteri yang tertinggal

Nah, buku ini tuh sebenarnya bacaan ringan, cuma 200 halaman aja. Jadi konfliknya ada di tiap bab, lalu selesai. Namun, aku masih penasaran dengan misteri tertinggal. Yang sebenarnya mungkin nggak begitu penting, tapi aku penasaran aja wkwk.

Yaitu sosok ‘hantu’ yang menduduki kursi kafe. Dan kursi yang itulah yang dipakai untuk melakukan Time Travel. Meskipun ada dialog yang mengatakan bahwa hantu itu adalah orang yang pergi ke masa lalu, tapi tidak kembali, rasanya pengen ada sejarah lengkapnya.

Tapi aku paham kok, namanya juga novel magical realism, perjalanan waktu ini perlu sesuatu… atau sebut aja media gitu. Nah, hantu ini pun turut punya perannya sendiri 😆.

Kesimpulan dan rekomendasi

Dikarenakan hanya 200 halaman saja, buku ini bisa jadi bacaan sekali duduk. Walaupun aku sendiri bacanya lumayan lama sih karena kesibukan dan ingin menikmati momen bacanya. 

Nah, buat yang suka cerita pendek heart-warming dengan unsur fantasi magical realism, Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold bisa jadi salah satu kandidat buku yang bisa kamu baca hehe. Atau bisa jadi bacaan santai pas lagi nongkrong di kafe juga! 

*

Baiklah sekian review dariku. Aku jadi penasaran dengan buku kedua dan ketiganya. Buat kamu yang sudah baca buku ini, kisah siapa yang menguras perasaaan kamu? Boleh juga loh sharing perasaan kamu di kolom komentar.

Terima kasih sudah membaca ^^

Post a Comment

0 Comments